Wihdah PPMI Mesir – Jumat (03/04/2026), komunitas Bedug Media menggelar acara bedah buku bertajuk “Etalase Kemasisiran”. Bertempat di sebuah kafe di kawasan belakang Nadi Qaumi, acara ini dihadiri oleh jajaran pejabat KBRI Kairo, tokoh PCI NU Mesir, serta alumni dan mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) dari berbagai angkatan.
Rangkaian peringatan satu dekade Bedug Media ini telah berlangsung sejak sore hari, dimeriahkan dengan pemotongan tumpeng, presentasi finalis esai, dan penayangan video dokumenter. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi bedah buku yang dipandu oleh Lalu Azmil Azizul Muttaqim selaku moderator.
Dalam pengantarnya, Lalu Azmil Azizul Muttaqim menjelaskan bahwa buku ini merangkum sekitar 50 tulisan pilihan dari 70 edisi rubrik Khazanah Masisir yang terbit sejak 2016 hingga 2025. “Judul ‘Etalase’ dipilih karena buku ini menjadi ruang untuk mengintip bagaimana para penulis melihat lingkungan mereka melalui analisis yang bernas. Mengacu pada teori Habitus Pierre Bourdieu, cara pandang kita dipengaruhi oleh lingkungan. Di sini, isu politik, akademik, hingga romantika diaspora terekam jelas,” ujar Lalu Azmil Azizul Muttaqim.
Redaktur Ahli Bedug Media, Muhammad Alfayad, menambahkan bahwa buku ini adalah upaya untuk melihat realitas Masisir melampaui fakta sosiologis biasa. Ia menjelaskan bahwa rubrik Khazanah Masisir bertujuan mengulas tema aktual dengan sudut pandang lokal. “Penulis dalam buku ini berusaha membedah bagaimana struktur sosial, politik, dan moral di Mesir memengaruhi individu, sekaligus peran individu dalam membentuk realitas sosial tersebut,” terang Muhammad Alfayad. Ia menegaskan bahwa kritik di dalamnya lahir dari “kegelisahan kolektif” yang jujur atas kondisi lingkungan sekitar.
Diskusi semakin berbobot dengan hadirnya dua pembedah utama. Pembedah pertama, Muhammad Iman Munsir, Lc., Dipl. (Penulis buku Orientalis dan mantan Wakil Ketua Tanfidziyah PCI NU Mesir), membedah buku dari sisi paradigma pergerakan intelektual.Mengutip pepatah “al-‘aqil man ‘arafa zamanahu” (orang berakal adalah yang mengenal zamannya), Muhammad Iman Munsir memberikan kritik keras terhadap stagnasi berpikir yang terkadang muncul di lingkungan mahasiswa. Ia menyoroti hilangnya fase analisis kritis dalam tradisi belajar.”Tradisi belajar di Al-Azhar seharusnya mencakup tiga fase: Al-Istima’ wa al-Qabul (mendengar dan menerima), Ta’alil wa al-Istinbath (analisis kritis), dan An-Nasyrat (penyebaran ilmu). Saya melihat fase analisis kritis ini sering kali hilang, sehingga mahasiswa terjebak menjadi pendengar pasif,” tegasnya.
Sementara itu, Zia (mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar dan aktivis literasi) memberikan apresiasi atas konsistensi Bedug Media selama sepuluh tahun. Ia menyebut buku ini berhasil merekam “akrobat” pola tingkah Masisir dari tahun 2017 hingga 2025.
“Membaca buku ini seperti bernostalgia dengan dinamika sosial, mulai dari tren lama di Facebook hingga kehidupan di Gamaleya,” ujar Zia. Ia juga menyoroti identitas berlapis Masisir: sebagai warga negara Indonesia, pelajar Al-Azhar, sekaligus pendatang di Tanah Para Nabi. Menurutnya, keragaman gaya tulisan dalam buku ini dari yang kaku hingga yang emosional merupakan potret jujur tantangan sosial dan identitas yang dihadapi mahasiswa.
Salah satu poin utama yang disoroti Zia adalah alasan di balik pembukuan kumpulan tulisan tersebut. Ia mempertanyakan apakah buku ini hadir sebagai sebuah “tawaran baru” yang utuh atau sekadar “kliping” dari tulisan-tulisan yang sebelumnya sudah pernah terbit di buletin.
“Saya belum menemukan aspek kuratorial yang menjelaskan mengapa rubrik ini yang dipilih, bukan 12 rubrik lainnya. Sebuah buku seharusnya memiliki standarisasi yang lebih mapan dibanding buletin yang dikejar deadline. Pembaca perlu tahu apa pesan utuh yang ingin disampaikan melalui kompilasi ini,” ungkap Zia.
Meski penuh catatan kritis, kedua pembedah sepakat bahwa “Etalase Kemasisiran” adalah dokumen penting bagi generasi mendatang. Di tengah menurunnya produktivitas karya intelektual mahasiswa, buku ini hadir sebagai benteng pengingat agar Masisir tidak sekadar menjalani rutinitas, tetapi terus membaca, menulis, dan berani bersikap jujur terhadap realitas.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap literasi dan refleksi diri di lingkungan mahasiswa Al-Azhar Kairo.
Reporter: Salsabila Atikah

