Aktivisme atau Sekadar Seremonial? Menakar Nyali Berpikir di Forum Diagnosa Masisir

Wihdah PPMI Mesir— Rabu (08/04/2026), Masisir Movement menggelar diskusi terbuka ‘Diagnosa Masisir’ di Kafe Tiara, Hay Sabi’. Acara ini dihadiri oleh Presiden PPMI Mesir, kedua pasangan calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden PPMI Mesir, meskipun calon presiden nomor urut 02, Azka, berhalangan hadir, perwakilan media massa, serta mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) secara umum.

Dalam pemaparannya, Faiz selaku moderator menyampaikan apresiasi tinggi kepada para calon pemimpin yang hadir. Menurutnya, kehadiran mereka di forum ini menunjukkan bahwa para paslon memiliki keterbukaan dan tidak anti terhadap dialog publik.

Diskusi dibuka oleh Faishol Abimanyu sebagai pemantik pertama dengan pertanyaan krusial: “Mengapa Masisir Absen dalam Isu Strategis?”. Menanggapi hal tersebut, Wildan (Capres 01) menjelaskan bahwa PPMI sebenarnya memiliki instrumen Kajian Strategis (Kastrat). “Jika Kastrat dimaksimalkan, Masisir akan lebih melek terhadap isu politik. Saat ini kita berada di era bias informasi, di mana terkadang Masisir sudah terbawa emosi sebelum memahami duduk perkara,” tuturnya. Fikri (Cawapres 01) menambahkan bahwa ada kompleksitas masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu demi kemaslahatan Masisir secara luas.

Pemantik kedua, Mabrur El Farouq, membedah dikotomi antara aspek intelektual dan seremonial dengan tajuk “Apakah Masisir Masih Berpikir?”. Mabrur menegaskan bahwa tidak ada pemisahan kaku antara dua dunia tersebut. “Tidak ada dikotomi antara aktivis talaqqers dan aktivis organisatoris. Keduanya merupakan implementasi keilmuan dan bagian dari pengetahuan (part of knowledge),” ujarnya.

Menanggapi pemantik tersebut, Daffa selaku calon wakil presiden nomor urut 02, menyoroti realitas di lapangan yang menjadi tantangan besar. “Kita berhadapan dengan fakta yang tak bisa dielakkan: Masisir tidak selalu berpikir, bahkan ada yang tidak berani berpikir karena takut salah dan takut disalahkan. Tantangannya adalah bagaimana cara kita mengaktifkan kembali budaya berpikir tersebut,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Daffa juga menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatannya serta ketidakhadiran Azka, calon presiden nomor urut 02, yang sedang menghadiri agenda lain.

Sementara itu, Wildan, Calon Presiden nomor urut 01, memberikan perspektif sejarah mengenai pergeseran fokus mahasiswa. “Dulu Masisir sangat fokus pada intelektual, namun sekarang berubah. Saat ini, mungkin polanya sudah berubah, banyak yang kurang berani bersuara karena kekhawatiran terhadap dampak personal,” tuturnya. Fikri, pasangan Wildan, menambahkan bahwa solusinya adalah dengan kembali mengindahkan AD/ART PPMI, meski terdapat beberapa hal teknis yang perlu dipenuhi untuk mencapainya.

Diskusi memanas saat pemantik ketiga, Dede Muflih, menantang ide besar kedua paslon mengenai kompleksitas sosial dan relasi dengan KBRI. Dede mengkritik fenomena mahasiswa yang sering kali hanya dijadikan objek kekuasaan di tengah anggaran besar institusi. “Wajah Masisir bisa dilihat dari dinamika Pasar Mesir, ketika pertanyaan receh dianggap permasalahan besar. Jika masalah sekecil itu tidak bisa diselesaikan mandiri, lantas bagaimana menghadapi umat?” cetusnya.

Menjawab tantangan tersebut, Paslon 01 menegaskan arah baru PPMI harus berpijak pada independensi mutlak dengan visi intelektual berlandaskan moral. Terkait relasi dengan otoritas, mereka menyatakan tidak ragu mengambil langkah konfrontatif jika diplomasi buntu. “Jika diplomasi nihil, kami berani menekan KBRI melalui gerakan suara kolektif, ketika tekanan untuk masisir sudah semakin besar dan memperkuat kita berani untuk menginisiasi suara kolektif tersebut untuk menekan pihak KBRI,” tegas Wildan. Mereka juga berkomitmen membawa Masisir ke kancah global melalui inisiasi forum internasional.

Di sisi lain, Paslon 02 menekankan pentingnya ideologi dan transformasi organisasi melalui penyerapan aspirasi publik yang luas sebelum meluncurkan kebijakan. Melalui empat program unggulan, salah satunya Tsaqofatuna, mereka fokus pada penyelesaian isu nasional-internasional yang selama ini tidak terjangkau oleh organisasi sektoral (kekeluargaan).

Diskusi ini diharapkan dapat memberikan pencerahan bagi Masisir dalam menentukan arah gerak ke depan, sekaligus membawa PPMI Mesir ke arah yang lebih baik dan solutif.

Reporter: Nabiila Mulkan & Salwa Harlinda