Citra Wihdah – Rabu (29/07/2026), dinamika Sidang Permusyawaratan Anggota (SPA) Wihdah PPMI Mesir 2026 di Aula KM-NTB, Nasr City, menghangat saat memasuki segmen debat panelis. Panelis Tata Kelola Organisasi, Mujida Amaniya, Lc., Dipl. (Ketua Wihdah 2023/2024), melontarkan ujian krusial bagi kedua calon ketua: bagaimana memastikan program kerja tak sekadar formalitas, tetapi berkelanjutan hingga akhir masa jabatan?
Menjawab tantangan jangka panjang tersebut, Badrul Novis (Calon Ketua Wihdah nomor urut 1) menyoroti pentingnya isu pemberdayaan yang tidak boleh berjalan satu arah mengingat luasnya spektrum kebutuhan masisirwati. Menurutnya, Wihdah perlu bergerak ke arah yang progresif dan tidak hanya mengandalkan formula sederhana. Novis memetakan sektornya mulai dari Majelis Azhariyyah untuk mahasiswi S1, hingga menghadirkan Ruang Tahfiz dan Ruwaq Keilmuan sebagai wadah improvisasi.
Ketika Mujida menyoroti efektivitas program tahfiz yang kerap menurun di tengah jalan, bahkan dinilai masih mirip dengan markaz pada umumnya, Novis menekankan pentingnya pengawasan terstruktur dari Divisi Keilmuan.
“Ketika mengonsep program ini, output dan regulasinya harus jelas dari awal dari teman-teman Divisi Keilmuan. Kita buatkan sebuah buku bukti setoran yang ada tauqi’ (tanda tangan) dari guru-guru kita, sehingga teman-teman terpantik dan termotivasi untuk menyelesaikan programnya,” jelas Novis.
Di sisi lain, Ananda Putri Aqila (Calon Ketua Wihdah nomor urut 2) menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan tiga pilar utama: “Peka, Paham, dan Konsisten” yang sempat disinggung dan dinilai menarik oleh Mujida. Bagi Putri, keberhasilan organisasi tidak boleh hanya diukur dari kerapian administratif, melainkan dari evaluasi ideal yang memastikan proker benar-benar menjawab kebutuhan anggota.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Putri mengandalkan instrumen Rencana Program Termin (RPT) sebagai pisau analisis sebelum sebuah proker dieksekusi. “Melalui RPT, pengurus mengkaji dulu latar belakang, tujuan, serta penyesuaian proker berdasarkan data kebutuhan masisirwati. Jadi evaluasinya tak berhenti di laporan administratif, tapi benar-benar ideal dan menjawab masalah di lapangan,” terang Putri.
Usai adu gagasan di ranah manajerial, forum berlanjut ke segmen keempat, yakni sesi linguistik interaktif. Pada sesi ini, kedua kandidat diuji kesiapannya dalam merespons dan mengawal dinamika kejadian langsung di lapangan. Pasalnya, menjadi Ketua Wihdah tak cukup berbekal narasi di atas kertas, melainkan butuh responsivitas dan langkah pasti demi memproteksi maslahat masisirwati.
Reporter: Nabiila Mulkan & Lisana Shidqin

