
Citra Wihdah – Senin (21/09/2026), Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menilai mahasiswa diaspora memiliki peluang untuk turut memperkenalkan budaya Indonesia di tingkat internasional. Hal tersebut disampaikan dalam diskusi panel Simposium PPI Dunia ke-18 di Capital Palace, Kairo.
Dalam diskusi bertajuk “Inventarisasi Budaya sebagai Instrumen Diplomasi Sekaligus Revitalisasi Peradaban dan Identitas Bangsa”, kekayaan budaya Indonesia dibahas tidak hanya sebagai warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai aset diplomasi dan ekonomi kreatif.
Indonesia sendiri memiliki sejumlah warisan budaya yang telah diakui UNESCO, di antaranya batik, angklung, keris, dan tari saman. Untuk menjaga keberagaman tersebut, inventarisasi dan dokumentasi menjadi langkah penting agar kekayaan budaya dapat terus dikenali dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Pemajuan kebudayaan juga memiliki landasan dalam UU Nomor 5 Tahun 2017, yang mencakup pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Pemanfaatan budaya tidak berhenti pada pelestarian, tetapi juga bisa mendorong perkembangan industri kreatif dan membuka peluang ekonomi.
Di lingkungan internasional, mahasiswa diaspora dapat mengambil bagian melalui interaksi sehari-hari, kegiatan kemahasiswaan, maupun berbagai ruang pertukaran budaya. Keberadaan mereka di luar negeri menjadi peluang untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia secara langsung kepada masyarakat setempat.
“Dari budaya yang dikenali, lahir identitas yang kuat; dari identitas yang kuat, terbuka ruang bagi diplomasi Indonesia di dunia,” ujar Fadli Zon.
Reporter: Nur Cahaya & Nurul Azizah
Editor: Lisana Shidqin
