NegaraWihdah PPMI Mesir- Sabtu (27/06/2026), dialog yang diadakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mesir dengan tema “Refleksi dan Kritik Konstruktif Mahasiswa Diaspora dalam Menimbang Arah Kebijakan Bangsa” berhasil memantik argumen para diaspora terhadap kebijakan negara. Bertempat di Cafe Zone, dialog ini diadakan untuk menumbuhkan budaya diskusi dan dialektika intelektual yang sehat di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir.
Glenn Sofyan membuka pemikiran dengan menegaskan bahwa pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikorbankan demi urusan lain, termasuk urusan perut. “Pendidikan adalah amanat tertinggi bangsa, seperti yang tertulis jelas dalam UUD 1945 alinea keempat: mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
Bagi Glenn, negara punya kewajiban mutlak untuk menghadirkan kemudahan akses serta sarana dan prasarana yang mumpuni agar proses belajar generasi muda bisa berjalan optimal.
Isu anggaran menjadi semakin sensitif saat pembahasan bergeser ke Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Pemantik diskusi menyayangkan adanya temuan pemotongan anggaran pendidikan yang dialokasikan demi menutupi kekurangan dana program tersebut. “Apakah kalian setuju makanan menggantikan pendidikan?” tembaknya kepada forum. Ia mengkritisi bahwa jika target utama program tersebut adalah mengatasi stunting, maka intervensi seharusnya dilakukan sejak masa kehamilan ibu, bukan saat anak sudah menginjak bangku sekolah (SD, SMP, dan SMA). Terlebih, stunting punya banyak variabel penyebab, salah satunya adalah kemiskinan. Oleh karena itu, akar kemiskinan itulah yang mestinya dibenahi terlebih dahulu secara bersama-sama.
Diskusi semakin memanas saat topik tentang melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing diperbincangkan. Berlanjut saat salah satu pemantik menganggap sebagian kritik yang muncul bersifat ikut-ikutan (FOMO) dan kurang didasari analisis yang mendalam. Sangat disayangkan, adu argumen dan tanya jawab belum memberikan hasil akhir yang memuaskan terhadap permasalahan yang terjadi.
Reporter: Haniyna Putri
Editor: Zanira Khairani

