HMI Cabang Istimewa Mesir Didorong Hidupkan Kembali Tradisi Intelektual Masisir

HMI Cabang Istimewa Mesir Didorong Hidupkan Kembali Tradisi Intelektual Masisir

Citra Wihdah – Selasa (15/09/2026) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Istimewa Mesir didorong untuk mengambil peran dalam menghidupkan kembali tradisi baca dan kajian intelektual di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir). Dorongan tersebut disampaikan oleh Nur Salim, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KBRI Kairo, dalam pelantikan kepengurusan baru HMI Cabang Istimewa Mesir di Balai Budaya KBRI Kairo.

Mengusung tema “Meneguhkan Peran HMI sebagai Nafas Intelektual dalam Lanskap Global, Keummatan dan Kebangsaan”, pelantikan tersebut menjadi momentum bagi kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Ihyasunan untuk memperkuat kembali peran HMI sebagai wadah gerakan intelektual di tengah kehidupan akademik Masisir.

Dalam sambutannya, Nur Salim menyoroti mulai redupnya tradisi baca dan kajian intelektual di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir. Ia menilai sebagian mahasiswa mulai asing dengan pemikiran tokoh-tokoh besar pemikir Islam.

“HMI Cabang Istimewa Mesir di bawah kepemimpinan Ihyasunan harus didorong untuk menjadi pelopor dalam menghidupkan kembali kajian-kajian intelektual yang mendalam, bukan sekadar menjalankan rutinitas administratif semata,” ujar Nur Salim.

Pelantikan tersebut dipimpin langsung oleh Rizqie Mustofa selaku Wakil Sekretaris Bidang Hubungan Internasional (Wasekbid HI) Pengurus Besar HMI (PB HMI). Ihyasunan resmi dilantik sebagai Ketua HMI Cabang Istimewa Mesir untuk periode mendatang.

Sejalan dengan dorongan tersebut, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Prof. Dr. Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P., Ph.D., turut menekankan pentingnya pemahaman terhadap Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai pijakan dalam menjalankan gerakan organisasi.

Para pengurus baru juga diajak meneladani rekam jejak pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang berakar dari tradisi pesantren, penguasaan sastra Arab, hingga wawasan pemikiran Islam inklusif global.

Di tengah dinamika global, mahasiswa diingatkan untuk mampu mengendalikan ego, keluar dari sekat-sekat faksi internal, dan kembali berfokus pada substansi perjuangan demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Selain penguatan tradisi intelektual, Abdul Muta’ali juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ia mengangkat gagasan wajib belajar 20 tahun guna mewujudkan masyarakat yang berpendidikan tinggi (well-educated) dan memiliki daya kritis tajam terhadap dinamika sosial-politik.

“Kemerdekaan bangsa dan kemajuan peradaban lahir dari jiwa pendidikan para pejuangnya. Melalui gagasan wajib belajar 20 tahun, kita wujudkan masyarakat yang benar-benar berpendidikan tinggi serta memiliki daya kritis tajam terhadap dinamika sosial-politik,” tegas Abdul Muta’ali.

Reporter: Nayla Qonita
Editor: Aisha Zahya